OPSINTB.com - Sejumlah negara tujuan penempatan Pekerja Migran Indonesia (PMI), seperti Arab Saudi dan Malaysia Barat, hingga saat ini masih membatasi atau menutup akses penempatan tenaga kerja migran dari Indonesia. Kondisi tersebut membuat calon pekerja migran Indonesia (CPMI) diminta lebih berhati-hati dan tidak tergiur tawaran keberangkatan melalui jalur nonprosedural.
Staf Pelaksana Bidang Penempatan dan Perluasan Kesempatan Kerja (P2K2) Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Lombok Timur, Fajar Arbain, menjelaskan bahwa penempatan pekerja migran ke Arab Saudi, khususnya untuk sektor informal, masih dihentikan melalui kebijakan moratorium.
Menurutnya, moratorium yang diberlakukan sejak 2014 dan kembali menjadi perhatian pemerintah pada 2021 tersebut berdampak pada penghentian penempatan pekerja migran untuk sektor informal, seperti asisten rumah tangga (ART).
Meski demikian, peluang bekerja di Arab Saudi masih terbuka untuk sektor formal tertentu, seperti barista dan cleaning service, dengan ketentuan calon pekerja harus memiliki keterampilan sesuai kebutuhan pekerjaan.
"Kalau sektor informal seperti ART sudah dihentikan. Namun, untuk sektor formal masih ada kemungkinan, seperti barista dan cleaning service. Tentunya calon pekerja harus memiliki keterampilan dan mengikuti pelatihan," jelas Fajar. Jumat (6/11/2026).
Ia mengingatkan, keberangkatan ke Arab Saudi melalui jalur yang tidak sesuai prosedur berisiko menimbulkan persoalan serius bagi calon pekerja migran.
Fajar mengungkapkan, pihaknya masih menemukan kasus perempuan yang tergiur tawaran bekerja ke Arab Saudi melalui sponsor tidak bertanggung jawab. Para calon pekerja biasanya dijanjikan keberangkatan dengan terlebih dahulu diberikan uang saku sekitar Rp5 juta hingga Rp7 juta.
Namun, setelah diberangkatkan dan ditempatkan di penampungan, mereka justru menghadapi ketidakpastian. Bahkan, ada yang harus tinggal di penampungan selama kurang lebih tiga bulan dengan alasan mengikuti pembelajaran dan pelatihan keterampilan.
"Ketika mereka langsung berangkat melalui kantor pusat atau sponsor, keberadaan calon pekerja migran menjadi sulit kami deteksi. Biasanya kami baru mengetahui setelah ada keluarga yang melapor ke satgas Disnakertrans terkait keberadaan anggota keluarganya," ungkapnya.
Sementara itu, untuk negara Malaysia, Fajar menyebutkan bahwa penempatan ke wilayah Malaysia Barat masih ditutup. Penutupan tersebut berkaitan dengan proses penertiban pekerja asing di negara tersebut.
Meski demikian, peluang penempatan ke Malaysia Timur masih tersedia. Pihaknya juga menerima informasi mengenai rencana pelaksanaan wawancara atau temu duga bagi calon pekerja migran yang memiliki peluang kerja melalui Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI).
"Malaysia Barat masih tutup, sedangkan Malaysia Timur masih terbuka. Kami mendapat informasi kemungkinan akan ada temu duga bagi calon pekerja yang memiliki peluang kerja ke Malaysia," katanya.
Ia menambahkan, calon pekerja migran yang telah mendaftar melalui Disnakertrans harus mengikuti tahapan seleksi dan pembekalan sebelum diberangkatkan. Dalam proses tersebut, CPMI diberikan edukasi mengenai perjanjian penempatan, hak dan kewajiban pekerja, serta kondisi pekerjaan di negara tujuan.
Salah satu hal yang ditekankan adalah pemahaman mengenai pengelolaan keuangan. Fajar menyebutkan, upah minimum di Malaysia saat ini berada di kisaran RM1.700 per bulan. Karena itu, calon pekerja diingatkan agar mampu mengatur pendapatan, baik untuk kebutuhan pribadi, tabungan maupun kiriman kepada keluarga di kampung halaman.
Selain itu, pihaknya mengimbau para pekerja migran agar fokus bekerja dan menghindari aktivitas yang dapat merugikan kondisi keuangan, seperti judi online dan permainan slot.
"Jangan sampai ketika pulang ke Indonesia justru tidak membawa hasil karena uang yang diperoleh selama bekerja habis untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Kami berharap mereka benar-benar fokus bekerja dan menabung," tegasnya.
Fajar juga mengingatkan pentingnya kedisiplinan selama bekerja di luar negeri, termasuk mematuhi ketentuan kehadiran atau absensi yang diberlakukan perusahaan.
Menurutnya, catatan kehadiran dapat menjadi salah satu dokumen pendukung apabila pekerja mengalami persoalan terkait pembayaran gaji. Jika terdapat kekurangan pembayaran upah, pekerja dapat menggunakan bukti kehadiran sebagai bahan pendukung untuk mengajukan klaim sesuai ketentuan yang berlaku di negara penempatan.
"Saya mengimbau masyarakat yang berminat bekerja ke luar negeri agar selalu mengikuti prosedur resmi melalui jalur yang telah ditetapkan pemerintah," tuturnya
Masyarakat juga diminta tidak mudah percaya terhadap janji sponsor yang menawarkan keberangkatan cepat tanpa kejelasan dokumen dan legalitas penempatan.
Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah praktik penempatan ilegal sekaligus melindungi calon pekerja migran dari risiko penipuan, eksploitasi, maupun persoalan hukum di negara tujuan. (kin)







follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di twitter
Follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di Instagram
follow Instagram Kami