OPSINTB.com | News References

Headline

Politik

Hukum

Nasional

14/09/26

157 desa di Lombok Timur mulai persiapkan tahapan Pilkades

 
157 desa di Lombok Timur mulai persiapkan tahapan Pilkades

OPSINTB.com - Pemerintah Kabupaten Lombok Timur mulai menjalankan tahapan pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) di 157 desa yang telah ditetapkan sebagai peserta Pilkades.


Sekretaris Daerah (Sekda) Lombok Timur, H Muhammad Juaini Taufik mengatakan, penetapan desa yang akan melaksanakan Pilkades beserta tahapan pelaksanaannya telah ditandatangani oleh Bupati Lombok Timur pada Jumat lalu.


Menurut Kak Ofik, setelah keputusan tersebut ditetapkan, pemerintah daerah langsung melakukan sosialisasi kepada desa-desa yang masuk dalam daftar pelaksanaan Pilkades.


"Secara resmi sudah kita informasikan bahwa desa-desa ini (157 desa) akan melaksanakan Pilkades," ucapnya saat diwawancarai opsintbcom pada Senin (14/9/2026).


Ia menjelaskan, tahapan berikutnya, Badan Permusyawaratan Desa (BPD) di masing-masing desa diminta segera memimpin musyawarah untuk membentuk Panitia Pilkades di tingkat desa.


Setelah Panitia Pilkades terbentuk, hasilnya akan dilaporkan kepada panitia pemilihan tingkat kabupaten. Selanjutnya, panitia tingkat desa memiliki tugas membentuk petugas pemutakhiran data pemilih atau pantarlih.


"Setelah ada panitia pemilihan tingkat desa yang dibentuk oleh BPD, nanti dilaporkan kepada kami. Panitia pemilihan juga segera membentuk petugas pantarlih," jelasnya.


Kak Ofik menyebut keberadaan pantarlih memiliki peran penting dalam proses Pilkades, terutama dalam tahapan pendataan dan pemutakhiran data pemilih.


Sementara itu, Panitia Pemilihan Kabupaten nantinya akan melakukan sosialisasi dan bimbingan teknis kepada seluruh panitia pemilihan desa serta petugas pantarlih.


Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan pelaksanaan Pilkades di seluruh wilayah Lombok Timur memiliki standar dan mekanisme yang sama.


"Panitia kabupaten lebih kepada standarisasi, supaya yang berlaku di Sembalun sama dengan yang berlaku di Jerowaru. Karena masih dalam satu wilayah, satu bahasa, yaitu Lombok Timur," katanya.


Meski demikian, Kak Ofik mengatakan terdapat kemungkinan adanya ketentuan yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya, termasuk dengan kabupaten tetangga. Perbedaan tersebut dapat diterapkan sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan yang lebih tinggi.


"Kalau ada yang spesifik berbeda, sepanjang tidak diatur dalam PP atau Permendagri, bisa disesuaikan dengan perda masing-masing. Tidak bisa norma di Lombok Timur dibandingkan begitu saja dengan norma di Lombok Tengah, karena masing-masing memiliki aturan daerah," pungkasnya. (zaa)

Dari Adelaide, tiga srikandi NTB bawa kekayaan budaya mendunia

 
Dari Adelaide, tiga srikandi NTB bawa kekayaan budaya mendunia

OPSINTB.com - Tiga perempuan yang mewakili kekuatan eksekutif, kebudayaan dan legislatif Nusa Tenggara Barat membawa kekayaan budaya NTB ke panggung internasional. Di Art Gallery of South Australia (AGSA), Adelaide, mereka tidak hanya melihat wastra Lombok yang menjadi bagian dari koleksi museum Australia, tetapi juga menemukan jejak budaya Bima dan manuskrip Lombok yang membuka kembali cerita panjang perjalanan kebudayaan NTB ke dunia.


Mereka adalah Wakil Gubernur NTB Hj. Indah Dhamayanti Putri, Ketua Dekranasda NTB Hj. Sinta Agathia, dan Ketua DPRD Provinsi NTB Hj. Baiq Isvie Rupaeda. Ketiganya didampingi Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTB dan Kepala Museum Negeri NTB, bersama tim, dalam rangkaian kegiatan di AGSA pada 11–12 September 2026.


Bagi Wagub, perjalanan tersebut harus menghasilkan pengetahuan dan jejaring yang dapat dibawa pulang untuk memperkuat kebudayaan NTB.


“Yang kita bawa ke panggung dunia bukan hanya benda budaya. Yang harus kita bawa adalah cerita, pengetahuan, nilai dan sejarah yang ada di balik setiap benda itu. Karena itu perjalanan ini harus menjadi bagian dari upaya kita menjadikan kebudayaan sebagai salah satu kekuatan NTB untuk mendunia,” pesannya.


Di AGSA, delegasi menelusuri koleksi yang berkaitan dengan Lombok, Bali dan Bima. Di antaranya kekombong, kain ritual dari Lombok Utara, kampuh atau leang dari Lombok Tengah, tekstil songket dan teknik supplementary weft. Koleksi tersebut menunjukkan bahwa wastra bukan sekadar motif dan warna, tetapi menyimpan pengetahuan tentang kapas, pemintalan, pewarna alam, teknik menenun, ritual, struktur sosial dan hubungan antardaerah.


Perhatian kemudian tertuju pada keris kerajaan asal Bima, yang dalam katalog AGSA tercatat berasal dari Bima, NTB, dan diperkirakan berasal dari abad ke-17 hingga awal abad ke-18.


Keberadaan pusaka itu membuka pertanyaan lebih besar tentang berapa banyak lagi warisan budaya NTB yang tersimpan di luar negeri.


“Kita harus mulai mengetahui, mendata dan membangun komunikasi dengan institusi yang menyimpannya. Tidak selalu harus berbicara tentang mengembalikan benda. Yang juga penting adalah bagaimana kita memperoleh pengetahuan, dokumentasi dan akses terhadap sejarah benda tersebut untuk masyarakat NTB,” ujar Wagub.


Jejak lain ditemukan melalui Hikayat Nabi Yusuf yang ditulis pada daun lontar, memperlihatkan bahwa kekayaan budaya NTB mencakup manuskrip, sastra, bahasa, arsitektur, senjata tradisional, ritus dan pengetahuan tentang alam.


Pengalaman AGSA sekaligus memberi referensi bagi pengembangan Museum Negeri NTB sebagai pusat pengetahuan, penelitian, pendidikan, konservasi dan diplomasi budaya. Kerja sama ke depan dapat diarahkan pada katalogisasi, digitalisasi, konservasi, penelitian provenance, publikasi, pertukaran pameran dan penguatan kapasitas kurator.


Cerita tentang Lombok kemudian dibawa ke forum internasional melalui peluncuran buku Two Islands, One Thread: Lombok and Bali Textiles from the Michael Abbott Collections. Forum tersebut mempertemukan peneliti, kolektor, kurator dan pemerhati tekstil, serta dihadiri sejumlah tokoh Australia, termasuk Senator The Hon Don Farrell, Minister for Trade and Tourism Australia, pimpinan AGSA dan Michael Abbott AO KC.


Ketua Dekranasda NTB Hj. Sinta Agathia menilai buku tersebut tidak membandingkan mana tekstil yang lebih baik antara Lombok dan Bali, tetapi memperlihatkan hubungan, persahabatan dan pertukaran budaya kedua pulau. Motif rangrang menjadi salah satu contoh bagaimana budaya berkembang melalui interaksi tanpa kehilangan identitasnya.


Sinta juga mengapresiasi Michael Abbott yang mengumpulkan dan mendokumentasikan ratusan tekstil Indonesia, termasuk Lombok dan Sumbawa. Menurutnya, publikasi tersebut penting untuk meningkatkan penghargaan terhadap penenun sekaligus menginspirasi generasi muda.


Ketua DPRD Provinsi NTB Hj. Baiq Isvie Rupaeda menilai diplomasi budaya membutuhkan dukungan berkelanjutan. Selain membangun reputasi dan kepercayaan internasional, diplomasi tersebut harus bermuara pada pelindungan dan manfaat bagi penenun, perajin, seniman, budayawan dan generasi muda.


Bagi Wagub, pariwisata dan kebudayaan harus berjalan beriringan. “Pariwisata membawa orang datang. Kebudayaan membuat orang memahami siapa kita. Dua hal ini harus saling menguatkan.”


Pesan itu juga dibawa kepada diaspora NTB di Adelaide. Para mahasiswa dan generasi muda didorong memanfaatkan pengalaman internasional untuk membangun ilmu dan jaringan, kemudian mengembalikannya bagi daerah.


“Belajarlah setinggi mungkin. Kuasai ilmu yang sedang dipelajari. Bangun pengalaman dan jaringan seluas-luasnya. Tetapi pada waktunya, ilmu dan pengalaman itu harus ikut memberi manfaat kepada NTB,” pesan Wagub.


Diaspora juga dipandang sebagai jembatan bagi pendidikan, investasi, perdagangan, pariwisata dan kebudayaan. Aspirasi mengenai konektivitas langsung Adelaide–Lombok pun dibuka untuk dikaji lebih lanjut.


Pada akhirnya, perjalanan Adelaide diarahkan menjadi kerja lanjutan: memetakan koleksi NTB di luar negeri, memperkuat museum, mendokumentasikan pengetahuan penenun, memperluas penelitian dan publikasi internasional.


Mendunia tidak berarti meninggalkan akar. Dari kain Lombok, lontar hingga keris Bima yang kini berada di Adelaide, jejak itu menunjukkan bahwa kebudayaan NTB telah lama melintasi batas geografis.


Kini tugasnya adalah menyambungkan kembali jejak tersebut menjadi pengetahuan, jejaring, kerja sama dan manfaat bagi masyarakat, sebagai bagian dari perjalanan menuju NTB Makmur Mendunia. (red)

Luar biasa! Desa Bilebante bakal jadi wakil NTB di Penjaringan Desa Berprestasi Tingkat Regional

 

Luar biasa! Desa Bilebante bakal jadi wakil NTB di Penjaringan Desa Berprestasi Tingkat Regional

OPSINTB.com - Desa Bilebante, Kecamatan Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) menorehkan prestasi gemilang setelah sukses menjuarai Penjaringan Desa Berprestasi Provinsi NTB 2026.


Berdasarkan SK Gubernur NTB Nomor 100.3.3.1-320 Tahun 2026 tentang Juara Lomba Desa dan Kelurahan Tingkat Provinsi NTB, Bilebante memperoleh nilai 93,83. Berselisih 20,6 dengan Desa Sermong, Kecamatan Taliwang, Sumbawa Barat di urutan dua dengan nilai 73,23.


Atas prestasi ini, Bilebante akan mewakili NTB pada lomba Penjaringan Desa Berprestasi Tingkat Regional Tahun 2026. Pemkab Loteng sendiri melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) akan melakukan pendampingan dan memperkuat persiapan desa tersebut menghadapi lomba nanti.


''Kami mengajak seluruh masyarakat memberikan dukungan dan doa terbaik,'' kata Kepala DPMD Loteng, Baiq Murniati, Senin (14/9/2026).


Ia berharap desa ini mampu meraih hasil maksimal agar dapat mengharumkan Kabupaten Loteng dan Provinsi NTB pada tingkat regional. Selain itu, Bilebante diharapkan menjadi inspirasi bagi seluruh desa di Loteng untuk terus bertransformasi, berinovasi, memperkuat tata kelola pemerintahan, ''Dan menghadirkan pembangunan yang manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.''


Untuk diketahui lomba kali ini mengusung tema ''Transformasi Desa sebagai Pilar Ketahanan Nasional Menuju Indonesia Emas 2045''. Indikator penilaian meliputi; penyelenggaraan pemerintahan desa, keunggulan bidang kewilayahan dan kemasyarakatan, pengembangan potensi desa, inovasi desa yang selaras dengan tema, dan rencana tindak lanjut setelah pelaksanaan lomba.


''Keberhasilan ini bukan hanya menjadi kebanggaan masyarakat Desa Bilebante, tetapi juga seluruh masyarakat Loteng. Karena prestasi ini lahir dari kolaborasi, inovasi, dan semangat gotong royong dalam membangun desa,'' ujar eks Camat Praya itu.


Sebelumnya, Kepala Desa Bilebante, Asrok Mudailun, menyatakan dengan adanya lomba ini, pihaknya akan berupaya meningkatkan sistem pelayanan pemerintahan desa menjadi lebih baik.


Selain meningkatkan pelayanan, pihaknya juga akan terus mengembangkan potensi wisata desa, yang sejauh ini telah mulai dikenal ke mancanegara.


''Jadi, kami berusaha agar tidak hanya Dusun Sade, dan lain-lain saja sebagai penyangga KEK Mandalika. Tapi, kami juga sedang berusaha ke arah itu,'' ucap Asrok. (wan)

13/09/26

Hultah NWDI ke-91, TGB ajak generasi meneruskan warisan perjuangan Maulana Syaikh

 
Hultah NWDI ke-91, TGB ajak generasi meneruskan warisan perjuangan Maulana Syaikh

OPSINTB.com - Ribuan jamaah memadati medan Hultah dalam peringatan Hari Ulang Tahun (Hultah) Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) ke-91 tahun sekaligus Haul Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid ke-29, Ahad (13/9/2026).


Dihadapan jamaah, Tuan Guru Bajang (TGB) Dr. Muhammad Zainul Majdi mengajak seluruh jamaah untuk tidak sekadar mengenang perjuangan Maulana Syaikh, tetapi juga meneruskan nilai-nilai yang telah diwariskannya.


Bagi TGB, salah satu cara menjaga warisan perjuangan tersebut adalah dengan memperkuat silaturahim.


"Kita perlu menyambung silaturahim. Itu yang kami kerjakan dan ikhtiarkan, karena dengan bersilaturahim kepada keluarga, penerus, dan murid serta sahabat guru kita, insya Allah akan mendatangkan keberkahan untuk perjuangan NWDI," ucap TGB di hadapan ribuan jamaah.


Ia pun menyampaikan apresiasi kepada para ulama yang hadir dalam momentum tersebut. Di antaranya Al-Ustadz Asy-Syaikh ‘Alaa’ Mustafa Na’imah Al-Azhari Asy-Syafi’i, Al-Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan, serta Ustadz Dr. Abdul Somad.


Kehadiran Dr. Zainul Huda bersama istri juga mendapat sambutan khusus. Ia merupakan bagian dari keluarga Kiai Haji Falak atau Mama Falak Bogor, sosok yang namanya, kata TGB, kerap disebut oleh Maulana Syaikh.


TGB kemudian mengajak jamaah melihat kembali betapa besar warisan yang telah ditinggalkan Maulana Syaikh.


Bukan hanya berupa lembaga pendidikan, tetapi juga iman, ketakwaan, al-awraad, wal-adzkaar, serta organisasi perjuangan. Lebih dari itu, Maulana Syaikh telah meninggalkan jaringan pendidikan yang begitu luas, dengan lebih dari 1.100 madrasah yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.


Warisan tersebut, menurut TGB, tidak boleh berhenti sebagai catatan sejarah.


"Maka tugas kita semua sekarang ini adalah mewariskan kembali secara bersama-sama, apa yang telah diwariskan oleh Maulana Syaikh," tegasnya.


Di sinilah TGB mengangkat satu pesan penting yang menjadi benang merah perjuangan pendidikan Maulana Syaikh, Asasu at-tarbiyah bina'ul insan dasar pendidikan adalah membangun jiwa manusia.


Pendidikan, menurutnya, bukan sekadar membuat seseorang pintar membaca, menghafal atau menguasai ilmu. Pendidikan harus mampu membentuk manusia dengan hati yang baik, jiwa yang kuat, serta mengenal Allah dan Rasul-Nya.


TGB mengingatkan bahwa membangun manusia membutuhkan kesabaran. Proses itu tidak dapat dilakukan secara instan.


Ia mengaitkannya dengan keteladanan Rasulullah SAW yang mendidik para sahabat secara bertahap, satu demi satu, sedikit demi sedikit.


Karena itu, para guru dan orang tua diminta tidak terburu-buru dalam mendidik anak. Hal-hal sederhana justru harus menjadi fondasi.


Mulai dari mengenalkan huruf hijaiyah, mengajarkan membaca Al-Qur'an, mengenalkan Tuhan dan Rasul-Nya, hingga memahami tuntunan agama.


TGB kemudian mengisahkan keteladanan Maulana Syaikh yang begitu sabar dalam berdakwah.


Meski dikenal sebagai lulusan terbaik Shaulatiyah dan meraih bintang lima, Maulana Syaikh tidak merasa terlalu tinggi untuk mengajarkan hal sederhana kepada masyarakat.


Selama tiga tahun, beliau disebut rela berkeliling dari desa ke desa hanya untuk mengajarkan masyarakat cara mengucapkan salam dengan benar.


"Kalau beliau saja sabar, maka kita yang ilmunya sedikit ini harus lebih sabar," ungkap TGB.


Menurutnya, kisah tersebut menjadi pelajaran bahwa pendidikan harus disesuaikan dengan kemampuan orang yang dididik. Maulana Syaikh tidak langsung membawa masyarakat pada pembahasan kitab-kitab besar, tetapi memulainya dari perkara sederhana yang menjadi kebutuhan dasar.


Namun, membangun manusia tidak berhenti pada kemampuan intelektual. Ada bagian yang jauh lebih sulit, yakni mendidik hati.


TGB mengajak seluruh jamaah untuk melunakkan hati dan "menjinakkan" jantung agar terbebas dari kebencian.


Ia mengakui, memaafkan orang yang menyakiti bukanlah perkara mudah. Rasa sakit dan berat untuk memaafkan merupakan sesuatu yang manusiawi.


Tetapi, menurutnya, kebencian tidak boleh dibiarkan menetap di dalam hati.


"Walaupun kadang kita dijahati sama orang, dan berat rasanya untuk memaafkan, hal itu manusiawi. Tetapi jangan pernah ada kebencian di dalam hati," pesannya.


Pesan tersebut menjadi salah satu bagian paling humanis dari tausiah TGB. Sebab pendidikan yang diwariskan Maulana Syaikh pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa banyak ilmu yang dimiliki seseorang, tetapi tentang bagaimana ilmu tersebut melahirkan manusia yang memiliki hati yang bersih.


Dari sanalah TGB mengajak jamaah memulai kembali proses pendidikan itu dari rumah masing-masing.


Anak-anak harus diajarkan mengaji, mengenal Al-Qur'an, mengenal Allah, mengenal Rasulullah, memahami tuntunan agama, sekaligus mengenal negara dan para pahlawannya.


Semua itu menjadi bekal agar anak-anak tumbuh sebagai manusia yang memiliki pengetahuan sekaligus karakter dan kecintaan terhadap kebaikan.


Maulana Syaikh telah mewariskan ilmu, madrasah, organisasi, tradisi keagamaan dan perjuangan. Kini, generasi penerus memiliki tanggung jawab untuk menjaga sekaligus menghidupkan kembali warisan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.


Dan sebagaimana pesan TGB, semuanya dapat dimulai dari sesuatu yang paling dekat, keluarga, anak-anak, guru, silaturahim dan hati.


"Mudah-mudahan Allah SWT memberkahi Hultah NWDI kita yang ke-91 ini, termasuk Haul Ninikda Al-Maghfurlah Maulana Syaikh yang ke-29. Dan semoga Allah SWT memberkahi majelis ini," terang TGB.


Pesan tentang pendidikan juga disampaikan Ustadz Abdul Somad (UAS).


Ia menyebut ada sejumlah hal penting yang perlu dilakukan orang tua untuk melahirkan anak yang alim dan saleh. Salah satunya adalah mengantarkan dan mendekatkan anak kepada guru.


Menurut UAS, pendidikan anak tidak cukup hanya dengan mendaftarkannya ke kampus atau pesantren, kemudian membiarkannya menjalani pendidikan sendiri.


Orang tua harus benar-benar terlibat dalam proses tersebut.


"Orang tua perlu benar-benar menyerahkan anak kepada guru. Orang tua juga harus memberi perhatian, bukan sekadar diserahkan dan transfer uang saja," katanya.


Orang tua juga diminta terus mengawal pendidikan anak, memberikan kepercayaan kepada guru, serta mengikhlaskan anak menjalani proses pendidikan di pondok demi masa depannya dan satu hal yang tidak boleh terputus doa.


Sebab, di balik ikhtiar guru dan orang tua dalam mendidik, ada doa yang menjadi penguat perjalanan seorang anak. (zaa)

Foto

WISATA

PENDIDIKAN

BUDAYA

EKONOMI

© Copyright 2026 OPSINTB.com | News References | PT. Opsi Media Utama