OPSINTB.com - Transformasi pembelajaran digital tidak cukup hanya dengan mengenalkanteknologi. Guru juga perlu dibekali kemampuan untuk merancang bahan ajar, mengembangkan media pembelajaran, dan menerapkannya secara langsung. Upaya tersebut dilakukan dosen FakultasKeguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Cordova melalui pelatihan pengembangan E-modul berbasis Problem Based Learning (PBL) dan LMS Google Sites bagi guru SMKN 1 Brang Ene, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat.
Kegiatan bertajuk “Penguatan Kompetensi Guru SMKN 1 Brang Ene melalui Pengembangan E-Modul Berbasis PBL dan LMS Google Sites untuk Pembelajaran Berkelanjutan” dilaksanakan pada 11–12 Agustus 2026, kemudian dilanjutkan dengan penerapan dan pendampingan hingga akhir tahun2026.
Dari Pelatihan Menjadi Produk Pembelajaran
Kegiatan PKM yang dilaksanakan oleh tim dosen Universitas Cordova tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi. Guru diarahkan untuk menghasilkan produk pembelajaran yang dapat digunakandalam kegiatan belajar mengajar. Tim PKM yang terdiri atas Hamdani, S. Pd., M. Pd.; Sopan Hidayat, S. Pd., M. Ed.; dan Rizka Donny Agung Saputra, S. Pd., M. Pd., merancang kegiatan dalam dua sesiyang saling berkaitan.
Pada 11 Agustus 2026, guru mendapatkan pelatihan pengembangan e-modul berbasis PBL. Guru diperkenalkan pada konsep e-modul, penyusunan materi, perancangan aktivitas pembelajaran, sertapenerapan pendekatan berbasis masalah. Sementara itu, pada 12 Agustus 2026, pelatihan dilanjutkandengan pengembangan dan pemanfaatan Google Sites sebagai ruang pembelajaran digital. Dengan pola tersebut, guru tidak hanya belajar menggunakan teknologi, tetapi juga belajar bagaimana teknologi dapat digunakan untuk mendukung proses pembelajaran.
Limbah Pertanian Menjadi Sumber Belajar
Salah satu produk yang dikembangkan dalam kegiatan tersebut adalah E-modul berbasis PBL dengan topik pembuatan pupuk kompos dari limbah pertanian. Pemilihan topik ini tidak terlepas darikeberadaan berbagai potensi dan permasalahan lingkungan di sekitar peserta didik. Limbah pertanianyang selama ini dipandang sebagai sisa kegiatan produksi dapat diangkat menjadi permasalahanpembelajaran.
Melalui e-modul tersebut, peserta didik diarahkan untuk mengenali permasalahan limbah pertanian, memahami potensi pemanfaatannya, melakukan penyelidikan, serta mempelajari proses pembuatanpupuk kompos. Pendekatan tersebut memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajarmelalui permasalahan yang dekat dengan kehidupan mereka. Pembelajaran kemudian tidak berhentipada pemahaman konsep. Peserta didik juga diarahkan untuk berpikir kritis, mencari informasi, memecahkan masalah, dan merumuskan solusi berdasarkan kondisi lingkungan sekitar.
Menghubungkan E-Modul dengan LMS Google Sites
E-modul yang telah dikembangkan kemudian diintegrasikan dengan LMS Google Sites. Platform tersebut dimanfaatkan sebagai ruang pembelajaran digital untuk mengorganisasi bahan ajar dan aktivitas pembelajaran. Guru berlatih menyusun halaman pembelajaran, memasukkan bahan ajar, mengintegrasikan e-modul, serta menata aktivitas pembelajaran agar dapat diakses secara lebihterstruktur.
Integrasi ini menjadi bagian penting dalam kegiatan karena produk yang dihasilkan tidak berhentisebagai dokumen digital. E-modul ditempatkan dalam lingkungan pembelajaran digital sehingga guru memiliki pengalaman dalam menghubungkan bahan ajar, model pembelajaran, teknologi, dan aktivitasbelajar dalam satu kesatuan.
Pendampingan Berlanjut hingga Akhir 2026
Setelah pelatihan selesai, kegiatan tidak berhenti pada dua hari pelaksanaan. Tim PKM melanjutkanPenerapan dan pendampingan terhadap guru hingga akhir tahun 2026. Pendampingan diarahkan untukmembantu guru menerapkan produk yang telah dikembangkan, melakukan perbaikan, sertamenyesuaikan e-modul dan LMS Google Sites dengan kebutuhan pembelajaran di sekolah.
Tahap pendampingan menjadi bagian penting untuk memastikan bahwa pengetahuan dan keterampilanyang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan dalam praktik. Guru juga memiliki kesempatanuntuk mengembangkan produk pembelajaran lainnya berdasarkan mata pelajaran dan karakteristikpeserta didik yang mereka hadapi. Dengan demikian, pelatihan tidak hanya menghasilkan sebuahproduk, tetapi juga membuka ruang bagi proses pengembangan dan penyempurnaan berkelanjutan.
Teknologi Bukan Sekadar Perangkat
Penggunaan teknologi dalam pembelajaran pada akhirnya bukan sekadar persoalan menggunakan aplikasi. Teknologi akan memberikan manfaat ketika digunakan untuk mendukung tujuan pembelajaran, membantu peserta didik memahami materi, menghadirkan permasalahan nyata, sertamemberikan ruang bagi mereka untuk aktif dalam proses belajar.
Melalui kegiatan PKM ini, pengembangan e-modul berbasis PBL dipadukan dengan LMS GoogleSites untuk membangun pengalaman pembelajaran yang lebih kontekstual dan terorganisasi. Temalimbah pertanian dan pembuatan pupuk kompos juga menunjukkan bahwa lingkungan sekitar dapat menjadi sumber belajar yang relevan. Permasalahan yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari dapat diolah menjadi bagian dari proses pembelajaran.
Kolaborasi untuk Pembelajaran Berkelanjutan
Kegiatan PKM Universitas Cordova di SMKN 1 Brang Ene menjadi bagian dari upaya memperkuathubungan antara perguruan tinggi dan sekolah. Perguruan tinggi dapat memberikan dukungan berupapengetahuan, inovasi, dan pendampingan. Sementara itu, sekolah menjadi ruang untuk menguji, menerapkan, dan mengembangkan inovasi tersebut sesuai kebutuhan pembelajaran.
Pendampingan yang berlangsung hingga akhir 2026 diharapkan dapat memberikan ruang bagi guru untuk terus menyempurnakan produk yang telah dikembangkan. Lebih dari sekadar menghasilkan e-modul dan ruang pembelajaran digital, kegiatan ini diarahkan untuk membangun pengalaman bahwainovasi pembelajaran membutuhkan proses: dirancang, dicoba, diterapkan, dievaluasi, dan dikembangkan kembali.
Ending
Transformasi pembelajaran digital tidak selesai ketika pelatihan berakhir. Justru setelah pelatihan, proses penerapan dan pengembangan dimulai. Melalui e-modul berbasis PBL, LMS Google Sites, sertapendampingan berkelanjutan hingga akhir 2026, guru SMKN 1 Brang Ene memiliki ruang untuk terusmengembangkan pembelajaran yang memanfaatkan teknologi sekaligus berangkat dari persoalannyata di lingkungan sekitar. Ketika teknologi bertemu dengan masalah nyata di sekitar peserta didik, pembelajaran tidak hanya menjadi lebih digital, tetapi juga lebih kontekstual dan bermakna.
Penulis:
Hamdani, S. Pd., M. Pd.
Sopan Hidayat, S. Pd., M. Ed.
Rizka Donny Agung Saputra, S. Pd., M. Pd.
Dosen FKIP Universitas Cordova
follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di twitter
Follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di Instagram
follow Instagram Kami