OPSINTB.com - Bank Indonesia (BI) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong pengembangan ekonomi dan kewirausahaan berbasis pesantren. Salah satunya melalui kemitraan strategis bersama Pondok Pesantren Salaf Modern (PPSM) Thohir Yasin, yang berada di Lendang Nangka, Kecamatan Masbagik, Lombok Timur, NTB.
Kepala Perwakilan BI Provinsi NTB, Hario Kartiko Pamungkas, mengatakan kerja sama tersebut merupakan bagian dari upaya BI dalam mendukung kemandirian ekonomi pesantren sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi dan keuangan syariah di NTB.
Menurut Hario, Pondok Pesantren Thohir Yasin telah menunjukkan perkembangan yang positif dalam mengelola berbagai kegiatan ekonomi dan kewirausahaan. Sejumlah unit usaha bahkan telah dikembangkan secara nyata dan mendapat dukungan dari BI.
"Memang kami BI NTB bersama Pondok Pesantren Thohir Yasin bermitra dalam hal pengembangan ekonomi dan kewirausahaan yang dilaksanakan di pesantren," ucapnya Ahad (30/8/2026).
Ia mencontohkan, beberapa kegiatan ekonomi yang telah dikembangkan di lingkungan pesantren antara lain greenhouse dan tempat pemotongan unggas. BI turut memberikan dukungan melalui pendampingan dan konsultasi untuk membantu pengembangan kegiatan tersebut agar semakin produktif dan berkelanjutan.
Hario menilai langkah yang dilakukan Pondok Pesantren Thohir Yasin merupakan gambaran positif bagaimana pesantren tidak hanya berperan dalam bidang pendidikan dan dakwah, tetapi juga mampu membangun kemandirian ekonomi.
"Harapan kami di Bank Indonesia, pesantren juga bisa melakukan pemberdayaan masyarakat dalam bentuk pengelolaan ekonomi dan kewirausahaan pesantren. Ini kami lihat sudah dilaksanakan di Pondok Pesantren Thohir Yasin," katanya.
Ia mengapresiasi pengelolaan pesantren yang dinilai semakin profesional. Saat ini, telah terdapat pembagian tanggung jawab yang jelas antara kegiatan pendidikan dan dakwah dengan kegiatan ekonomi yang dikelola pesantren.
Dengan pengelolaan tersebut, Hario berharap berbagai unit usaha dan aktivitas ekonomi yang dikembangkan dapat terus tumbuh sehingga pada akhirnya mampu memberikan kontribusi terhadap operasional pesantren secara keseluruhan.
"Sudah ada penanggung jawab masing-masing. Kami berharap ke depan kegiatan ekonomi dan keuangan syariah yang dilaksanakan Pondok Pesantren Thohir Yasin semakin berkembang dan pada akhirnya dapat mendukung operasional pesantren secara keseluruhan," ujarnya.
Selain penguatan sektor ekonomi pesantren, BI NTB juga akan terus mendorong peningkatan pemahaman masyarakat, khususnya para santri dan alumni pesantren, terhadap perkembangan ekonomi digital.
Hario menjelaskan, kemajuan teknologi telah membawa perubahan besar dalam aktivitas ekonomi dan sistem pembayaran. Masyarakat kini memiliki pilihan untuk melakukan transaksi menggunakan uang tunai maupun non-tunai.
Dalam hal ini, BI memiliki komitmen untuk memastikan sistem pembayaran berjalan lancar, baik melalui uang kartal maupun transaksi digital.
"Kami harapkan nantinya santri, alumni maupun lingkungan pesantren juga bisa memahami kegiatan-kegiatan yang sifatnya digital. Bersama-sama kami ingin mengembangkan ekosistem keuangan dan ekonomi digital di NTB," jelasnya.
Menurut dia, literasi digital menjadi semakin penting seiring pesatnya perkembangan teknologi. Kemudahan dalam bertransaksi harus dibarengi dengan pemahaman terhadap berbagai risiko yang dapat muncul.
BI NTB pun secara konsisten memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai keamanan transaksi, baik tunai maupun non-tunai.
Untuk transaksi tunai, masyarakat terus diingatkan mengenai pentingnya mengenali ciri-ciri keaslian rupiah melalui program Cinta, Bangga dan Paham Rupiah.
Sementara dalam transaksi digital, masyarakat juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai modus kejahatan, termasuk penipuan melalui pesan WhatsApp maupun bentuk penipuan digital lainnya yang dapat menyebabkan kerugian finansial.
"Kemajuan teknologi juga memiliki risiko. Karena itu, edukasi dan sosialisasi terkait risiko yang mungkin dihadapi masyarakat harus terus dilakukan," katanya.
Hario menegaskan, upaya meningkatkan literasi keuangan dan digital tidak dapat dilakukan sendiri. BI terus berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan kementerian terkait.
Melalui sinergi tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya mendapatkan kemudahan dalam melakukan transaksi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengenali dan mengantisipasi risiko.
"Kami berharap masyarakat memahami kemudahan dalam bertransaksi, baik tunai maupun non-tunai, tetapi di sisi lain juga memahami risiko yang mungkin dihadapi," pungkasnya. (zaa)





follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di twitter
Follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di Instagram
follow Instagram Kami