Memanjat Doa Menggugat Tahta - OPSINTB.com | News References

21/03/25

Memanjat Doa Menggugat Tahta

Memanjat Doa Menggugat Tahta

 
Memanjat Doa Menggugat Tahta

Penulis:

Abdul Ali Mutammima Amar Alhaq, S.Sos

Mahasiswa Magister Hukum Keluarga Islam UIN Mataram


Bulan suci Ramadhan selalu menjadi bulan yang dinantikan oleh setiap insan, bulan yang begitu istimewa. Bulan di mana umat Islam di seluruh dunia menahan diri dari perbuatan perbuatan yang negatif, bulan suci yang juga sebagai bentuk pengendalian diri serta penyerahan diri kepada sang maha kuasa Allah SWT dan sebagai bulan refleksi atas kehidupan sosial. Namun, di tengah kegiatan puasa dan ibadah lainnya, situasi kebangsaan hari ini diselimuti oleh aksi demonstrasi dan protes yang begitu keras menggema di ruang publik. Artikel ini mengajak para pembaca untuk menyelami korelasi antara doa yang terus melangit dalam kesucian bulan Ramadhan dan aksi demonstrasi sebagai bentuk keresahan rakyat. Meski nampak bertolak belakang, tetapi memiliki potensi untuk menyatukan harapan dan memperkuat jati diri bangsa.

 

​Era yang kian modern dan arus informasi begitu cepat, dinamika politik Indonesia kian kompleks. Demonstrasi yang terjadi akhir-akhir ini menjadi sebuah cermin keinginan masyarakat untuk menyuarakan aspirasi terhadap kebajikan-kebijakan yang dianggap tidak berpihak pada keadilan dan kesejahteraan. Di sisi yang berbeda, demonstrasi adalah bentuk ekspresi demokrasi, manifestasi hak rakyat untuk menolak kebijakan yang dianggap memiliki dampak negatif, Di sisi yang lain juga, bulan suci Ramadhan hadir sebagai bulan untuk merenung, mencari pencerahan serta menyucikan hati dengan berbagai ritual keagamaan. 

 

​Korelasi keduanya nampak jelas bilamana kita melihat bahwa dibalik setiap aksi demonstrasi, tersimpan harapan agar bangsa yang besar ini dapat berubah menjadi bangsa yang lebih baik. Sementara itu, dibalik setiap detak doa, terselip keinginan untuk mendapatkan ampunan, kebijaksanaan dan kekuatan untuk menghadapi tantangan kehidupan berbangsa dan bernegara. Di sinilah letak benang merah yang menghubungkan dua dunia yang tampak berbeda tersebut.

 

Harapan di Tengah Gejolak


​Doa sejatinya merupakan bahasa hati melampaui kata-kata. Di bulan yang penuh barokah, doa menjadi lebih intens melangit, meresap dalam setiap helaan nafas setiap insan yang berharap agar segala dosa diampuni dan setiap kesulitan yang dihadapi diberikan pintu kemudahan. Doa dalam bulan suci Ramadhan, juga bermakna pembersihan jiwa dan pembaruan semangat. Dalam hal ini, doa tidak hanya berlaku bagi kehidupan personal, tetapi juga bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Di balik doa yang terus melangit, ada harapan kolektif untuk mendapatkan pencerahan dalam menghadapi kehidupan  kebangsaan yang kompleks. 

 

​Ketika bumi senyap dan suara hati lebih nyaring terdengar, malam-malam itu bukan sekadar rentang waktu yang bergulir menuju fajar. Ia adalah ruang hening tempat doa-doa berbisik lebih dalam, berharap dijawab Sang Pemilik Cahaya. Dalam tiap detak jantung yang mengiringi doa, ada keyakinan bahwa harapan mampu mengubah keadaan. Di tengah kebijakan kontroversial dan gemuruh demonstrasi yang menuntut perbaikan, detak doa menjadi simbol ketenangan—pengingat bahwa di balik setiap masalah tersimpan hikmah. Doa pun bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan perlawanan sunyi, penguatan diri untuk tetap berharap dan berusaha tanpa kekerasan.

 

Suara Rakyat Dalam Tindakan


​Aksi demonstrasi m merupakan cerminan suara yang ingin didengar oleh para pemegang kekuasaan. Demonstrasi terjadi dimata-mana, demonstrasi juga terjadi melalui media sosial yang merupakan perlawanan terhadap kebijakan yang dirasa tidak adil. Demonstrasi muncul sebagai respons terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai otoriter. Salah satunya adalah pengesahan RUU TNI menjadi Undang-Undang oleh DPR pada hari Rabu kemarin, yang memicu kekhawatiran akan potensi dominasi militer dalam ranah politik dan kehidupan sipil.

 

​Walau kemudian demonstrasi identik dengan konflik, tetapi pada dasarnya demonstrasi adalah cermin dari dinamika demokrasi yang sehat. Dalam setiap aksi protes, mengandung pesan bahwa keinginan untuk menghadirkan negara yang lebih transparan, adil dan demokratis. Namun, yang menjadi tantangan kini adalah bagaimana mengharmonisasikan semangat protes dengan nilai-nilai perdamaian yang sejatinya harus melekat dalam kehidupan, beragama, berbangsa, dan bernegara khususnya di bulan suci Ramadhan. 

 

​Melihat kedua fenomena tersebut, kita dapat menemukan sebuah kontradiksi yang justru menyimpan potensi energi. Ramadhan mengajarkan untuk setiap manusia untuk bersabar, menahan diri, dan memperbanyak introspeksi diri. Tetapi di satu sisi, demonstrasi adalah wujud keberanian untuk menyuarakan kebenaran, menuntut perubahan dan keadilan. Nilai-nilai ini walau nampak berbeda, tetapi dapat saling melengkapi. 

 

​Ketika dipadukan dengan aksi nyata, maka terciptalah suatu bentuk perlawanan yang tidak hanya menolak ketidakadilan, tetapi juga membangun harapan baru. Misalnya, gerakan sosial yang muncul di bulan suci Ramadhan mengedepankan solidaritas sosial, saling membantu sesama, dan mengusung semangat gotong royong. Nilai-nilai inilah sangat relevan dalam konteks demonstrasi yang menuntut reformasi kebijakan. Dengan mengintegrasikan nilai spiritual, aksi protes pun tidak berfokus pada kritik semata, melainkan juga menawarkan solusi konstruktif untuk perbaikan bangsa. 

 

​Dengan menyatukan kekuatan doa dan aksi, bangsa ini dapat kembali menemukan ruh kebersamaan yang kerap terlupa. Harapan itu perlu disemai dalam dialog yang tulus, di ruang publik maupun ruang batin. Pemerintah, tokoh agama, dan rakyat hendaknya berpadu, mencipta kebijakan yang tidak hanya menjawab tuntutan zaman, tapi juga menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Dalam detak doa yang menyusup di sela demonstrasi, ada asa untuk menyeimbangkan hak dan kewajiban, kritik dan kepeduliansebagai sebuah harapan akan keadilan yang lebih beradab.

 

​“Detak Doa di Balik Demonstrasi: Menemukan Makna Kebangsaan di Bulan Suci” adalah sebuah refleksi mendalam tentang bagaimana Ramadhan bisa menjadi jembatan sunyi antara spiritualitas dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Doa-doa yang lirih dipanjatkan di malam-malam sepi menjadi bahasa pengharapan dan penyucian jiwa, sementara demonstrasi adalah teriakan lantang keberanian yang ingin mengoreksi arah kebijakan yang dirasa menyimpang. Di persimpangan keduanya, ada potensi untuk merajut reformasi yang tidak hanya menyembuhkan luka-luka struktural, tetapi juga mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan dalam tatanan bangsa yang kian rapuh. Sinergi ini, meski sering tersembunyi di balik gema suara dan keheningan, adalah cerminan hasrat kolektif menuju keadilan yang lebih manusiawi.

 

​Dalam konteks kebangsaan yang tengah diuji, detak doa di bulan Ramadhan menginspirasi setiap individu untuk tidak hanya menunggu perubahan, tetapi aktif berpartisipasi dalam mewujudkannya. Dengan mengintegrasikan kekuatan spiritual dan semangat demokrasi, kita dapat menata kembali perjalanan bangsa menuju masa depan yang lebih adil, damai, dan bermartabat. Semoga di balik setiap aksi protes yang terdengar, terdapat gema doa yang menguatkan tekad, dan di balik setiap doa yang dipanjatkan, terwujudlah perubahan nyata bagi Indonesia tercinta.

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2021 OPSINTB.com | News References | PT. Opsi Media Utama